Selasa, 24 Mei 2016

Colorless Tsukuru Tazaki (Bab 1 2/18)

sumber gambar di sini

Ketika ia tidak memikirkan tentang kematian, pikirannya menjadi kosong. Itu tak cukup sulit agar membuatnya terjaga dari berpikir. Ia tidak membaca surat kabar apa pun, tidak mendengar musik, dan tidak memiliki hasrat seksul yang dapat dibicarakan. Peristiwa yang terjadi di belahan dunia mana pun, baginya, tak penting dibicarakan. Saat ia mulai bosan berada dalam kamarnya, ia berkeliling tanpa tujuan di lingkungan sekitar, atau pergi ke stasiun, di mana ia terduduk di sebuah bangku dan menyaksikan kereta api tiba dan berangkat, lagi dan lagi.

Ia rutin mandi setiap hari, ia menggunakan shampoo agar rambutnya tetap bersih, dan pergi ke laundry dua kali seminggu. Kebersihan adalah salah satu hal paling utama: laundry, mandi, dan menggosok giginya. Ia nyaris tidak menyadari apa yang ia makan. Ia makan siang di kafe kampus, tapi selain itu, ia jarang sekali mengkonsumsi makan yang sehat. Ketika lapar ia berhenti di pasar lokal dan membeli sebuah apel atau beberapa sayuran. Kadang-kadang ia makan roti tawar, menuangkannya susu langsung dari kemasannya. Ketika tiba waktunya untuk tidur, ia akan menelan segelas wiski seolah-olah itu adalah dosis obat. Untungnya dia tidak banyak peminum, dan dosis kecil alkohol itu semua yang diperlukan untuk mengirim dia pergi tidur. Dia tidak pernah bermimpi. Tetapi bahkan jika ia bermimpi, bahkan jika gambar mimpi muncul dari tepi pikirannya, mereka akan menemukan tempat untuk bertengger di lereng licin kesadarannya, bukan dengan cepat meluncur, turun ke dalam kehampaan.

Alasan mengapa kematian menyerang pikiran seperti yang dialami Tsukuru Tazaki pun jelas. Suatu hari empat teman-teman terdekatnya, teman-teman yang ia kenali untuk waktu yang lama, mengumumkan bahwa mereka tidak ingin melihat dia, atau berbicara dengan dia, tak akan pernah. Tiba-tiba, itu yang menentukan deklarasi, dengan tidak ada ruang untuk kompromi. Mereka memberi tanpa penjelasan, tanpa kata, untuk pernyataan yang keras ini. Dan Tsukuru tidak berani bertanya.

Dia sudah berteman dengan empat dari mereka sejak SMA, meskipun ketika mereka memotongnya, Tsukuru sudah meninggalkan kota asalnya dan menghadiri kolase di Tokyo. Jadi yang dibuang tidak memiliki efek negatif langsung pada rutinitas sehari-hari - itu tidak seperti akan ada saat-saat canggung ketika dia bertemu dengan mereka di jalan. Tapi itu hanya kebawelan. Rasa sakit yang dirasakan adalah, jika ada, lebih intens, dan terbebani dia bahkan lebih besar karena jarak fisik. Keterasingan dan kesepian menjadi kabel yang membentang ratusan mil panjang, ditarik ke titik putus dengan winch raksasa. Dan melalui garis kencang, siang dan malam, ia menerima pesan terbaca. Seperti gale bertiup di antara pepohonan, pesan-pesan yang tak beraturan dalam kekuatan mereka sampai kepadanya dalam fragmen, menyengat telinganya.  

Jumat, 20 Mei 2016

Colorless Tsukuru Tazaki (Bab 1 1/18)

1.




Sejak Juli tahun keduanya di kampus hingga tiba di Januari, semua yang dapat Tsukuru Tazaki pikirkan hanyalah tentang kematian. Ia memasuki usia dua puluh tahun saat ini, tapi di masa yang amat penting itu saat menjadi dewasa semua itu tak berarti apa-apa. Bunuh diri sepertinya akan jadi solusi yang paling alami, dan bahkan sekarang ia tidak dapat menjelaskan mengapa ia belum juga memilih langkah akhir ini. Melewati ambang pintu antara kehidupan dan kematian bisa jadi terasa lebih mudah dibandingkan menelan bagian paling berlendir, telur mentah.

Barangkali ia belum memutuskan untuk melakukan bunuh diri sebab ia tidak mampu memahami  cara yang pas agar lebih alami dan perasaan luar biasa yang dimilikinya menghadapi kematian. Namun cara bunuh diri itu bukanlah yang utama. Jika ada sebuah pintu dengan keistimewaan yang memastikan dengan benar menuju kematian, ia tidak akan ragu-ragu untuk membuka pintu itu, tanpa mesti berpikir dua kali, seolah itu hanya bagian dari hidup yang biasa saja. Tak peduli itu baik atau buruk, meskipun, pintu semacam itu tak ada di sekiarnya.

Seharusnya aku telah benar-benar mati, Tsukuru seringkali berbicara seperti itu dengan dirinya sendiri. Kemudian dunia ini, dalam kesatuan untuk saat ini dan sekarang, tidak pernah ada. Dunia ini hanyalah hal yang menawan hati, pikiran penuh pesona. Dunia saat ini tak pernah ada, dan realitas tidak sepenuhnya nyata. Sejauh ini dunia telah dipenuhi keprihatinan, ia tidak akan lama lagi menghilang - sama seperti dunia ini tidak akan lama lagi ada untuknya. 

Pada waktu yang bersamaan, Tsukuru tidak dapat memahami mengapa ia berada pada titik itu, ketika ia baru saja mengimbangi dirinya di tebing jurang. Ada peristiwa yang sebenarnya mengarahkan dirinya ke tempat ini ini  sangat ia pahami dengan baik tapi mengapa kematian mesti seperti itu menahan dirinya, menahannya seolah dipenuhi ketakutan selama hampir setengah tahun? Tertahan kata itu telah menggambarkannya dengan tepat di dunia ini. Seperti Nabi Yunus di dalam perut ikan paus, Tsukuru telah terjatuh di dalam perut kematian, yang dari hari ke hari sulit untuk dijelaskan, hilang dalam kegelapan, menyatu dalam kehampaan.  
  
Menjalani harinya ia seolah sedang tidur saat berjalan, seperti jika ia telah mati namun belum ia sadari. Ketika matahari terbit, maka Tsukuru sikat gigi, tidak menyadari baju apa yang ia kenakan, mengendarai kereta menuju kampus, dan menulis catatan di kelas. Seperti orang yang ada di dalam badai putus asa dan ia bertahan mencengkeram tiang listrik, ia terus mencengkeram semuanya seperti telah menjadi rutinitas sehari-hari. Dia hanya berbicara kepada orang-orang ketika diperlukan, dan setelah sepulang dari kampus, ia akan kembali ke apartemen sendiri, duduk di lantai, bersandar ke dinding, dan merenungkan kematian dan kegagalan hidupnya. Sebelum ia berbaring besar, jurang gelap yang berlari langsung melalui ke inti bumi. Semua dia bisa melihat awan tebal kosong mengitarinya; semua bisa ia dengarkan keheningannya yang mendalam mampu meremas gendang telinganya.

Ketika ia tidak memikirkan tentang kematian, pikirannya menjadi kosong.


Haruki Murakami
Sumber gambar di sini

*Diterjemahkan dari Bahasa Inggris oleh Philip Gabriel dan dilanjutkan oleh Wawan Kurniawan menjadi bahasa Indonesia. Setiap tiga hari sekali, akan kami posting lanjutan terjemahan ini.